Minggu, 28 Agustus 2016

Sorry?



Maaf.
Maaf karna pertemuan kemarin tidak berakhir baik. Maaf untuk egoku. Karna sungguh, jangan pernah tanyakan lagi apakah ada yang ingin aku bicarakan atau tidak, karna hal itu akan menjadi begitu sensitif dan menciptakan pamit yang tidak terlalu nyaman, seperti kemarin.
Karna seharusnya kamu tak perlu merusak tawa kita dengan pertanyaan macam itu. Memang. Maksudmu begitu baik. Kamu mencoba tetap ada untukku meski kita tidak dalam hubungan yang melegalkan kebersamaan, it’s a backstreet, you can say. Namun dengan kamu bertanya
“ Ada yang mau diomongin, ga? “
Aku menjadi begitu emosional, karna ya menurutku itu manusiawi. Dengan yang kualami ini, kamu masih terus bersamaku, dan mengakui masih adanya perasaan yang dulu pernah kamu miliki terhadapku, yang nyatanya akupun begitu, namun kita tak mungkin bersama karna kamu sudah termiliki, yang pada hakikatnya, aku ingin bersamamu, sehingga aku begitu ingin memperjelas semuanya. Yang harus dengan pasrah kuterima, bahwa percakapan itu kamu akhiri dengan
                “ Lupain gue.“
                Aku sungguh melihat kamu bergulat dengan dirimu untuk angkat suara untuk sekedar mengungkapkan beberapa kata sederhana itu.
                Aku mendengar suaramu yang sedikit tercekat namun wajib kamu ungkapkan karna jika tidak, akan semakin memperpanas situasi.
                Jika kulihat dari kacamata ketidakadilan, sesungguhnya hanya Allah-lah yang Mahaadil. Kamu tidak mungkin adil. Namun jika harus kukatakan, apa yang kamu lakukan memang tidak adil. Tidak untukku, apalagi kekasihmu.
                Setiap kali kita pergi bersama, and whenever you treat me more than just a friend and do what lovers do, like adelle said, aku selalu terfikir akan hal-hal seperti “ hey, he is’nt even yours, fi. He owned.” And then again, I’m pushing my self to not to doing the things that all those lovers did, like holding hands, as you ask me to. It’s just all about it (and besides my religion forbid it). Don’t you understand? L
                But then again, if I let my self see you through, and take a look around your relationship that’ve been 4 years (and no more pls), many things you both have been through, what she gave to you that I don’t, and all of those things, sungguh kamu begitu baik.
                Kenapa begitu baik?
                Kamu sudah menjalani hubungan 4 tahun bersama kekasihmu. Entah apa saja yang sudah kalian lalui bersama, berapa ribu pesan yang sudah saling kalian tukar, dan hal lainnya, yang tentunya tidak sepadan sama sekali dengan memorimu yang terlewati bersamaku yang hanya berkisar tiga bulan, tanpa pernah ada status, penuh pengabaian, penuh diam, dan aku yang begitu kaku, namun….. ah. Kamu masih mampu memiliki perasaan yang sama untukku hingga saat ini. Mengizinkanku untuk tetap ada dihidupmu meski dengan sembunyi-sembunyi. Melindungi identitasku agar kekasihmu tidak mengetahui, masih mampu merindukanku, semata-mata karna kamu tau aku masih memiliki perasaan ini sejak 3 tahun silam (and still counting).
                Sungguh kamu begitu baik.
                Kamu menepati janjimu.
                Bahkan kebersamaan kita kemarin, adalah keinginanmu, untuk tetap bersamamu namun tak mampu mengikatku karna kau tak berdaya dengan hubunganmu yang sudah kau bangun 4 tahun.
                Ya aku mengerti.
                Semestinya aku berterimakasih.
                Aku tak semestinya menuntut lebih.
                Aku hanya cukup bahagia dan menikmati semua proses ini.
                Aku masih saja jahat, dan tidak kunjung mengerti.
                Aku minta maaf.
                Maafkan aku.
                Dan ya, aku setuju.
                Aku sudah memikirkan ini, dan, aku setuju. Mari berteman sedekat ini. Mari tetap berteman sedekat ini. Mari tetap bersahabat seperti ini. Selama apapun kamu dan aku akan sanggup. Aku bersedia. Karna sesungguhnya aku bahagia. Sangat bahagia. Kamu tau bahagia seperti apa yang sedang aku bicarakan ini.
                Terimakasih tetap ada dihidupku, dan kumohon jangan pernah pergi. Aku akan sangat menyesal dan aku akan sangat merindukanmu.
                Terimakasih kita akhirnya berteman lagi.
                Terimakasih kita akhirnya bisa saling kenal lagi.
                Terimakasih sudah kembali (meskipun sesekali :p).
                Ada satu hutang yang harus kubayar padamu setelah semua ini.
                See you in February !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar