Maaf.
Maaf karna pertemuan kemarin tidak
berakhir baik. Maaf untuk egoku. Karna sungguh, jangan pernah tanyakan lagi
apakah ada yang ingin aku bicarakan atau tidak, karna hal itu akan menjadi
begitu sensitif dan menciptakan pamit yang tidak terlalu nyaman, seperti
kemarin.
Karna seharusnya kamu tak perlu
merusak tawa kita dengan pertanyaan macam itu. Memang. Maksudmu begitu baik.
Kamu mencoba tetap ada untukku meski kita tidak dalam hubungan yang melegalkan
kebersamaan, it’s a backstreet, you can say. Namun dengan kamu bertanya
“ Ada yang mau diomongin, ga? “
Aku menjadi begitu emosional, karna ya menurutku itu
manusiawi. Dengan yang kualami ini, kamu masih terus bersamaku, dan mengakui
masih adanya perasaan yang dulu pernah kamu miliki terhadapku, yang nyatanya
akupun begitu, namun kita tak mungkin bersama karna kamu sudah termiliki, yang
pada hakikatnya, aku ingin bersamamu, sehingga aku begitu ingin memperjelas
semuanya. Yang harus dengan pasrah kuterima, bahwa percakapan itu kamu akhiri
dengan
“ Lupain
gue.“
Aku
sungguh melihat kamu bergulat dengan dirimu untuk angkat suara untuk sekedar
mengungkapkan beberapa kata sederhana itu.
Aku
mendengar suaramu yang sedikit tercekat namun wajib kamu ungkapkan karna jika
tidak, akan semakin memperpanas situasi.
Jika kulihat dari kacamata ketidakadilan,
sesungguhnya hanya Allah-lah yang Mahaadil. Kamu tidak mungkin adil. Namun jika
harus kukatakan, apa yang kamu lakukan memang tidak adil. Tidak untukku,
apalagi kekasihmu.
Setiap kali kita pergi bersama, and whenever you treat me more than just a friend and do what lovers
do, like adelle said, aku selalu terfikir akan hal-hal seperti “ hey, he is’nt even yours, fi. He owned.” And
then again, I’m pushing my self to not to doing the things that all those
lovers did, like holding hands, as you ask me to. It’s just all about it (and
besides my religion forbid it). Don’t you understand? L
But then again,
if I let my self see you through, and take a look around your relationship
that’ve been 4 years (and no more pls), many things you both have been through,
what she gave to you that I don’t, and all of those things, sungguh kamu
begitu baik.
Kenapa begitu baik?
Kamu sudah menjalani hubungan 4 tahun bersama
kekasihmu. Entah apa saja yang sudah kalian lalui bersama, berapa ribu pesan
yang sudah saling kalian tukar, dan hal lainnya, yang tentunya tidak sepadan
sama sekali dengan memorimu yang terlewati bersamaku yang hanya berkisar tiga
bulan, tanpa pernah ada status, penuh pengabaian, penuh diam, dan aku yang
begitu kaku, namun….. ah. Kamu masih mampu memiliki perasaan yang sama untukku
hingga saat ini. Mengizinkanku untuk tetap ada dihidupmu meski dengan
sembunyi-sembunyi. Melindungi identitasku agar kekasihmu tidak mengetahui,
masih mampu merindukanku, semata-mata karna kamu tau aku masih memiliki
perasaan ini sejak 3 tahun silam (and still counting).
Sungguh kamu begitu baik.
Kamu menepati janjimu.
Bahkan kebersamaan kita kemarin, adalah keinginanmu,
untuk tetap bersamamu namun tak mampu mengikatku karna kau tak berdaya dengan
hubunganmu yang sudah kau bangun 4 tahun.
Ya aku mengerti.
Semestinya aku berterimakasih.
Aku tak semestinya menuntut lebih.
Aku hanya cukup bahagia dan menikmati semua proses
ini.
Aku masih saja jahat, dan tidak kunjung mengerti.
Aku minta maaf.
Maafkan aku.
Dan ya, aku setuju.
Aku sudah memikirkan ini, dan, aku setuju. Mari
berteman sedekat ini. Mari tetap berteman sedekat ini. Mari tetap bersahabat
seperti ini. Selama apapun kamu dan aku akan sanggup. Aku bersedia. Karna
sesungguhnya aku bahagia. Sangat bahagia. Kamu tau bahagia seperti apa yang
sedang aku bicarakan ini.
Terimakasih tetap ada dihidupku, dan kumohon jangan
pernah pergi. Aku akan sangat menyesal dan aku akan sangat merindukanmu.
Terimakasih kita akhirnya berteman lagi.
Terimakasih kita akhirnya bisa saling kenal lagi.
Terimakasih sudah kembali (meskipun sesekali :p).
Ada satu hutang yang harus kubayar padamu setelah
semua ini.
See you in
February !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar