Minggu, 28 Agustus 2016

Oreo McFlurry



Juli lalu, kau datang lagi.
Dua cup es krim dan sekantong French fries adalah alasanmu untuk mengajakku pergi.
Aku suka berada dalam perjalanan
Aku selalu mencintai berbagai perjalanan
Dan aku selalu menikmati setiap mili jarak yang aku tempuh, terlebih jika itu denganmu.
Entah mengapa berada dalam perjalanan adalah hal yang paling aku sukai. Karna pada saat itu, aku seakan menembus bentangan jarak tak berujung, dan berada dalam posisi paling dekat denganmu.
Dan kau tidak akan pernah tau keajaiban apa yang akan terselip dan menjadi kenangan tak terlupakan disela-sela perjalanan itu.
Meskipun pergi pasti memiliki tujuan, namun aku tidak terlalu menyukai ketika aku sampai.
Ya sederhana saja. Karna perjalanan itu sudah berakhir.
Aku benci berhenti
Memarkirkan mobil
Keluar dari kendaraan, dan berjalan.
Karna ketika berjalan, kau memposisikan dirimu sejauh-jauhnya
Dan aku tidak suka
Aku hanya suka perjalanan kita sebelum sampai.

Tapi apakah kau sadar, yang aku sukai ini apakah juga cerminan dari hubungan kita?
Aku sangat menyukai ketika aku pergi dan berada dalam perjalanan denganmu.
Namun aku benci ketika hubungan ini harus berakhir dan tidak mungkin dilanjutkan, karna tujuan kita sudah tercapai
Maksudku, tujuanmu sudah tercapai. Kekasihmu.

Pembelaan yang kulakukan semalam atas kekasihmu, menorehkan lontaran “Dia kan bukan istriku” yang sampai saat ini begitu jelas tergambar dipikiranku.
Begitu pun kalimat “Lupain gue” yang entah mungkin sampai seberapa lama bisa larut dan menguap dari ingatanku.
Kamu selalu bilang jika aku bisa terus melangkah dan melupakan segalanya
Tak sadarkah? Aku sudah mencoba melakukannya –kau tahu berapa lama- namun bagaimana hasilnya?
Kau pikir aku tak berusaha?
Kau pikir aku tak berjuang?
Aku sekuat tenaga mati-matian mencoba menghilangkanmu, entah dihidupku saat ini atau pun dikemudian hari, jika kamu memang tidak baik untukku, lewat berbagai cara. Salah satunya dalam doa,
Yang kutahu doa adalah ramuan paling ampuh penyembuh luka
Namun apa? Kamu nyatanya semakin dan semakin dekat
Tapi ditengah kedekatan ini, yang kau yakini sebagai kedekatan antar-teman, memampukanmu berkata “gue mau kita tetep deket. Tapi lu juga harus buka hati ke yang lain”
Membuka hati? Hahaha hatiku sudah kubuka sejak entah. Dan menganga dengan luka-lukanya
Apakah menurutmu akan ada barang seseorang yang mau singgah diruang yang penuh luka?
Apakah menurutmu akan mudah menyimpan penghuni baru kedalam hatimu yang masih berantakan dan masih dipenuhi perasaan untuk penghuni sebelumnya?
Bagaimana bisa?
Kamu selalu bilang bahwa tidak ada yang tahu bagaimana nanti
Namun ditengah ketidaktahuanmu, kamu selalu sisipkan kalimat keseriusanmu dengan kekasihmu
Lalu sebenarnya apa maumu?
Aku adalah pengingat yang baik, jika kau ingin tahu
Beberapa hal akan begitu mudah teringat
Ketika penting, ingatan itu seakan masuk keruang penyimpanan “MOST IMPORTANT EVER” automatically
Dan kabar buruknya, semua tentangmu adalah penting
Jadi jika kau menuntutku untuk melupakan mu namun kau dengan sengaja terus berada dekat denganku, jangan pernah salahkan aku jika bukannya lupa, kamu malah semakin terukir.
Aku tau hanya aku yang menderita dan lagi-lagi harus berjuang dan berusaha
Namun aku tak mampu jika you have to went away entirety from my whole life
I can’t
Im in love with the idea of spending time with you
Even though you weren’t mine, and might be would never be
But then again, who knows?
God loves me and he’ll gave me the one whom I deserve
Maybe I should just enjoy every part of this journey til I forget how to being sad anymore

“assalamualaikum mas”
“mc flurry milo 1. Mau juga nggak? Oh yaudah 2”
“fren fris.. apa?” French fries, kubilang.
“French frais?”
“sama kentang!” kentangnya berapa?, Tanya si masnya.
“satu aja” oh dua, masnya bilang lagi. Kami tertawa.
“SATU mas”
Those drivethru.

“lah mc flurry oreo. Bukan milo. Mas-masnya budeg. Kamfret!”
“lu denger kan td gua pesennya milo?
“gua gasuka oreo nih. Ngeres”

Those one full spoon of oreo  mc flurry that u don’t like
And all the laugh
Thank you
Could I forget? Do u think I am?


Sorry?



Maaf.
Maaf karna pertemuan kemarin tidak berakhir baik. Maaf untuk egoku. Karna sungguh, jangan pernah tanyakan lagi apakah ada yang ingin aku bicarakan atau tidak, karna hal itu akan menjadi begitu sensitif dan menciptakan pamit yang tidak terlalu nyaman, seperti kemarin.
Karna seharusnya kamu tak perlu merusak tawa kita dengan pertanyaan macam itu. Memang. Maksudmu begitu baik. Kamu mencoba tetap ada untukku meski kita tidak dalam hubungan yang melegalkan kebersamaan, it’s a backstreet, you can say. Namun dengan kamu bertanya
“ Ada yang mau diomongin, ga? “
Aku menjadi begitu emosional, karna ya menurutku itu manusiawi. Dengan yang kualami ini, kamu masih terus bersamaku, dan mengakui masih adanya perasaan yang dulu pernah kamu miliki terhadapku, yang nyatanya akupun begitu, namun kita tak mungkin bersama karna kamu sudah termiliki, yang pada hakikatnya, aku ingin bersamamu, sehingga aku begitu ingin memperjelas semuanya. Yang harus dengan pasrah kuterima, bahwa percakapan itu kamu akhiri dengan
                “ Lupain gue.“
                Aku sungguh melihat kamu bergulat dengan dirimu untuk angkat suara untuk sekedar mengungkapkan beberapa kata sederhana itu.
                Aku mendengar suaramu yang sedikit tercekat namun wajib kamu ungkapkan karna jika tidak, akan semakin memperpanas situasi.
                Jika kulihat dari kacamata ketidakadilan, sesungguhnya hanya Allah-lah yang Mahaadil. Kamu tidak mungkin adil. Namun jika harus kukatakan, apa yang kamu lakukan memang tidak adil. Tidak untukku, apalagi kekasihmu.
                Setiap kali kita pergi bersama, and whenever you treat me more than just a friend and do what lovers do, like adelle said, aku selalu terfikir akan hal-hal seperti “ hey, he is’nt even yours, fi. He owned.” And then again, I’m pushing my self to not to doing the things that all those lovers did, like holding hands, as you ask me to. It’s just all about it (and besides my religion forbid it). Don’t you understand? L
                But then again, if I let my self see you through, and take a look around your relationship that’ve been 4 years (and no more pls), many things you both have been through, what she gave to you that I don’t, and all of those things, sungguh kamu begitu baik.
                Kenapa begitu baik?
                Kamu sudah menjalani hubungan 4 tahun bersama kekasihmu. Entah apa saja yang sudah kalian lalui bersama, berapa ribu pesan yang sudah saling kalian tukar, dan hal lainnya, yang tentunya tidak sepadan sama sekali dengan memorimu yang terlewati bersamaku yang hanya berkisar tiga bulan, tanpa pernah ada status, penuh pengabaian, penuh diam, dan aku yang begitu kaku, namun….. ah. Kamu masih mampu memiliki perasaan yang sama untukku hingga saat ini. Mengizinkanku untuk tetap ada dihidupmu meski dengan sembunyi-sembunyi. Melindungi identitasku agar kekasihmu tidak mengetahui, masih mampu merindukanku, semata-mata karna kamu tau aku masih memiliki perasaan ini sejak 3 tahun silam (and still counting).
                Sungguh kamu begitu baik.
                Kamu menepati janjimu.
                Bahkan kebersamaan kita kemarin, adalah keinginanmu, untuk tetap bersamamu namun tak mampu mengikatku karna kau tak berdaya dengan hubunganmu yang sudah kau bangun 4 tahun.
                Ya aku mengerti.
                Semestinya aku berterimakasih.
                Aku tak semestinya menuntut lebih.
                Aku hanya cukup bahagia dan menikmati semua proses ini.
                Aku masih saja jahat, dan tidak kunjung mengerti.
                Aku minta maaf.
                Maafkan aku.
                Dan ya, aku setuju.
                Aku sudah memikirkan ini, dan, aku setuju. Mari berteman sedekat ini. Mari tetap berteman sedekat ini. Mari tetap bersahabat seperti ini. Selama apapun kamu dan aku akan sanggup. Aku bersedia. Karna sesungguhnya aku bahagia. Sangat bahagia. Kamu tau bahagia seperti apa yang sedang aku bicarakan ini.
                Terimakasih tetap ada dihidupku, dan kumohon jangan pernah pergi. Aku akan sangat menyesal dan aku akan sangat merindukanmu.
                Terimakasih kita akhirnya berteman lagi.
                Terimakasih kita akhirnya bisa saling kenal lagi.
                Terimakasih sudah kembali (meskipun sesekali :p).
                Ada satu hutang yang harus kubayar padamu setelah semua ini.
                See you in February !